Senja ini takkan pernah berakhir dalam hidupku, aku berdiri di pantai menatap luas samudera yang indah dengan mata berkaca – kaca, semilir angin semakin menyayat hatiku, nyanyian nelayan terasa merdu di telinga, aku mencoba membaca sekali lagi goresan luka perasaan ini, “ Tuhaaaaaan…indah sekali…walaupun terasa sakit, sakit sekali, mungkin ini teguranmu untuk aku yang selalu melupakanMu”,aku berbisik lirih.
Aku melirik ke belakang punggungku, banyak sayatan yang perih dan menyakitkan, mereka menderaku dengan cambuk kebencian, “ tapi Tuhan…tolong…jangan Kau membenciku…ampuni aku Tuhan…cukup mereka saja yang membenciku “, ucapku seraya menahan air mata.
Aku menghela nafas panjang lalu kuhirup udara perlahan, sejuk sekali lalu dada terasa berguncang hebat mengingat semua kepedihan, “ hiks…hiks…se..seh..seharusnya a..aku..aku tak perlu bersedi..ih, sela..selama nafas ini berhembus seharusnya pula aku sela…lu mengingat..Mu, bukan menabung do..osa “.
Tak kuasa aku menahan ini, beban ini, berat, lalu kubiarkan gelombang pasang yang datang menghantam tubuhku bertubi-tubi membenamkan tubuhku. “ SETAAAAAAAAAAN !!!!! GILAAAAAAA!!!!! ”, aku berteriak lantang menantang makhluk tuhan yang terkutuk itu, air mata ini tak kuasa ku bendung lagi sehingga kubiarkan saja mengalir deras membasahi pipiku tak terasa aku tak dapat menatap senja ini lagi, tubuhku tenggelam.
“ Kekasih…takkan ada kekasih, sejati….tidak ada kesejatian selain Dia, cinta sejati…takkan ada cinta yang sejati seperti Dia mencintaiku, setia….takkan ada yang sesetia Dia menghidupkanku kembali diwaktu pagi, panggilan sayang….ternyata tak ada yang semesra Dia untuk memanggilku disaat subuh, siang, senja, dan malam yang tak pernah kuhiraukan, oh Tuhaaan…janganlah kau benci aku, kini aku sadar “.
Tak terasa lama sekali aku berada didalam air sehingga terasa ada yang mencekik leherku dan, “ Uaaaaaah !!!! haph….haph…haph…glekh…glekh..”, aku kehabisan nafas, sesak, aku mencoba sekuat tenaga keluar dari laut yang semakin manyeret tubuhku, terus kucoba walaupun aku tak pandai berenang, “ Hufff..hufffh…ahhh…hah..hah..akhirnya..uhk..uhuk..uhk..ha hah hahahah..aku sampai juga di tepian..uhuk..uhuhk…..”, akupun berjalan dengan lunglai menuju pasir yang masih kering, “ haaaaah…bodohnya aku, hampir saja aku mati terseret gelombang pasang, ngapain sih aku tadi, hhhhhh…..bukankah Tuhan akan marah dan mambenciku jika aku mati bunuh diri “ aku menghela nafas sesaat, lalu “ BODOOOOOOOOOOOHHH !!! “,sekali lagi aku berteriak keras sekali sehingga membuat takut burung-burung yang hinggap di hutan mangrove lalu mereka terbang menuju langit yang semakin memerah ditemani air mataku yang sekali lagi mengalir dan semakin deras. “ oh, hari semakin gelap, aku harus pulang kalau tidak bisa-bisa bonyok marah-marah neh, dah kemaleman “, bergegas ku naiki sepedaku, jarak antara rumah dan pantai 17 km, cukup jauh, memang. Akupun pulang dengan mengayuh sepeda tua peninggalan almarhum kakekku, aku sangat menyayangi kakekku, kata orang sifatku yang perasa ini mirip kakekku, tetapi sayang kakek meninggal karena kecelakaan dan tempatnya tepat di jalan raya yang ku lalui ini.
Tanpa kusadari akupun melamun “ Kakek..mungkin kalau kakek masih hidup mungkin kakek bisa tahu…mungkin mungkin bisa………”, belum sempat ku lanjutkan lamunanku tiba-tiba, “ TIIIN !!!! TIIIIN !!! TIIIIIIIIIN !!!! “, suara klakson yang keras dan lampu yang menyilaukan itu datang tepat di hadapanku lalu membuyarkan semuanya, “ Astaghfirullah !!! “ aku menjerit kaget, “ Gila ni bis !! “ dan “ DHUERRRR!! BRAAAAAAAAAAK !!!! “, suara benturan yang dahsyat terdengar jelas di telingaku, “ Anak sialaan !!, Kuampreeet!!! “, kudengar kernet bis itu memakiku dan langsung kubalas dengan ayunan jari tengah, “ Suksess ya !! MONYOONG !!! MATI AJA LUUU!!! NYEBUR LAUT !!! “, aku membalasnya, “ Huff…untung aja aku gak kenapa kenapa “, aku tak menghiraukan sekelilingku yang saat itu memang dalam kondisi yang gelap. “ Lho…mana sepedaku ?? aaaaaah….mana gelap lagi…duh mana siiih….aduh pake ilang segala…aaaah bodo ah…lari aja yang penting sampe rumah dengan selamat “, Finally, dengan semangat aku ayunkan kakiku menuju rumah, hanya air mata yang terurai disambut dengan dingin malam yang semakin menusuk lalu wajah mama, papa, adik, dan teman-teman yang selalu tersenyum buatku, ingin rasanya aku cepat sampai aku ingin memeluk mereka semua, aku ingin segera masuk sekolah besok apalagi ada pelajaran olahraga jadi bisa nyantai, “ Ya Allah…ternyata hidup itu begitu indah…..maafkan aku ya Allah…maafkan aku yang selalu menyalahkan takdir….ini salahku “.
Senyumku mulai tersungging setelah kulihat pagar rumahku terbuka lebar, “ Gila !! aku bisa sampai rumah…uwah..hiks..hiks..10 kilometer bo’!! wah kalo pak Rudi tau, pelajaran dikjasor pasti gak bakal ada nilai merah lagi neh..he he he…” tak sabar aku langsung menerobos masuk tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu, udah terbiasa sih, “ What the……aaaaaaaah……apa-apaan neh mama, masa pintu dibiarin kebuka gitu sih, ntar disatronin maling baru tau rasa lu….uuuuuh..”, tanpa kututup pintu aku langsung naik kelantai atas dan langsung masuk kamar.
Aku duduk di atas tempat tidur, aku menyandarkan tubuhku yang dingin dan penuh luka ini di sudut dinding, “ Sebaiknya kulupakan saja pria pengecut itu, pria yang selama ini……..”, aku mulai kesal dan muak sehingga tak ku lanjutkan perkataanku itu dan aku mulai menghembuskan nafas,” Hhhhhh…ayah pernah berkata bahwa orang baik pasti mendapatkan yang baik, dan aku berharap pria itu akan mendapatkan yang serupa, biar mampus, makan tuh karma….he he he……hhhhh…ya Allah “.
“ Ahhhhhhh…..apa yang harus kujelasin ama mama papa ya….haduuuh aku merasa aku udah ngasi contoh yang gak baek ne buat Nia ”, Nia adalah adikku satu-satunya, kata orang sih kita kembar, tapi kalo dilihat sih masih cantikkan aku, dikit, “ He he he aku harus tegar…..ganbatte kudasaiiii!!!”, “ Aduh iya, sekarang aku harus berubah, aku udah kudu mulai rutin sholat, kudu dipaksa neh…hehe udah gede dah bisa bikin dosa masa gak sholat “. Lalu akupun mulai masuk kamar mandi.
Hening sekali suasana malam ini, terasa sepi, tapi tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara, perlahan semakin mendekat, “ Suara apa nih ?? ini bukan suara derap langkah, ini suaru deru kendaraan, bukan satu tapi…kira-kira sepuluh neh cukup buat bikin suara gini, tapi…”, belum sempat aku lanjutkan analisaku tiba-tiba saja mobil-mobil itu sudah memasuki teras rumahku, salah satunya adalah mobilku.
Aku penasaran akan apa yang terjadi, akupun menuruni tangga perlahan-lahan, dan, “ Haaaah, mama…..”, aku kaget setengah mati melihat tubuh mama yang di gotong beramai-ramai oleh papa juga tetangga, “ Mama…mama…kenapa mama pa ??? “. Aku berlari ke arah papa, tetapi aku langsung setengah lega melihat jawaban pak RT, “ Tenang pak Sukardi, mungkin ibu hanya shok jadi itu mengakibatkan ibu pingsan “, aku semakin bingung, “ Shok? emang mama pernah pingsan gara-gara shok pa ? “,aku bertanya pada papa, “ Maklumlah pak RT….dia kesayangan ibu “, jawab papa, “Apanya yang kesayangan ibu, siapa ? dik Nia ? mana ? ada apa dengan adikku ?? dimana Niaku ?? ”, aku panik mencari di setiap sudut ruangan, aku mencari Nia, “Saya mengerti pak bagaimana perasaan ibu “, sambung pak RT “ Hmmmm…begini saja, bagaimana jika segala sesuatunya malam ini biar kami urus dulu, biar bapak bisa mendampingi ibu dan menenangkan kalau-kalau ibu bangun. “, “ Oh, terima kasih pak “, ayah menjawab sambil menangis.
“ Assalamualaikuum…”, tiba-tiba kudengar suara yang aku kenal, “ Waalaikumsalaaam “ seluruh ruangan menjawab kecuali aku, aku tak peduli, segera kuhampiri adikku, “ Nia..Nia..jawab mbak…Nia, Nia gak kenapa-kenapa kan ?? “ aku berusaha bertanya, tapi Nia malah menangis sejadi-jadinya, “ Aduuuh ni anak ya, ditanya gak malah jawab malah nangis, Nia…Nia…Ni……”, belum sempat kulanjutkan menginterogasi Nia tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh raungan mobil ambulance dari kejauhan, suaranya mulai mendekat, semakin mendekat, dan akhirnya berhenti di teras rumahku, “ Bapak-bapak semua, itu ambulance sudah datang, mari sebaiknya kita cepat-cepat membantu mengangkat jenazahnya “. Pak RT berikut bapak-bapak yang lain langsung berhamburan membuka pintu belakang mobil ambulance, lalu mereka segera mengangkat tubuh yang tak bernyawa itu. “ Siapa…Siapa itu ?? “, aku bingung, “ Masa nenek ? “, aku semakin penasaran dan akupun segera menuju ruang tengah, tempat dimana jenazah itu diletakkan. “ Awas…hati-hati..turuninnya pelan pelan..”, kata pak Rudi, dia tetangga sebelah rumahku dan sering banget aku kerjain.
Aku duduk bersimpuh disamping jenazah itu sambil menatap wajah – wajah yang berlinang air mata, “ Jenazah siapa ini pa ?? “, aku bertanya pada papa yang memang duduk disebelahku, tapi tiba-tiba saja tangan papa membuka penutup wajah jenazah itu dengan gemetar “ Ijinkan aku…ijinkan papa melihatmu…nak ”, aku kaget mendengar pernyataan papa, apa benar yang kudengar, lalu kain penutup itupun dibuka dan, “ Aaaaaaaah…..apaa…apa iniii…apa…ap..apaan “, aku terkejut melihat apa yang saat ini kulihat, apa yang saat ini dihadapanku, Aku dekatkan wajahku didekat jenazah itu, aku mengenalinya, wajah manis itu, kulit yang putih dan bersih, mata yang sipit, hidung yang mancung, bibir yang tipis dan merah itu, dan rambut lurus dengan potongan harajuku itu, kini tergeletak tak bernyawa, jenazah itu adalah jenazah, “ NANAKOOO !!! “, tiba – tiba terdengar jeritan dari luar pintu rumah, itu suara teman-temanku, “ Ommm, Nanako kenapa om…ada apa sama Nanako om….kenapa jadi begini “, sahabatku Firda menangis sejadi-jadinya.
Ya, itu jasadku, jenazahku, aku, namaku Nanako, umurku 17 tahun dan masih SMA kelas XI IPS 2, anak pertama dari dua bersaudara, aku hamil dua bulan dan baru tadi siang diputusin oleh pacar yang tidak bertanggung jawab, diputus tepat pulang sekolah, aku kadang juga make, awalnya itu juga karena pengaruh cowokku, ayahku seorang da’i dan orang terpandang, ibuku adalah guru agama islam di sekolahku, aku Nanako, telah meninggal dunia saat aku mulai ingin sholat dan melaksanakan ibadah lainnya, aku Nanako, jasadku terbaring tak bernyawa, “ Ya Allah…masihkah ada kesempatan lagi…aku Nanako mohon ampun ya Allah, ya Allah maafkan aku…..maafkan Nanako “.
Dari penulis : YO! Alhamdulillah….ini salah satu cerpen buatanku yang masih tersisa, yang lainnya udah ludes gak tau dimana nyimpennya, jadi selamat menikmati ceritanya dan semoga bermanfaat, sengaja aku pake nama Nanako coz aku suka bgt ma japanizz..so..dimohon kritik dan sarannya yaaa..thx..(^_^)v..= Maurice =
KARTU IDENTITAS SISWA
nama : NANAKO
umur : 17 tahun
kelas : XI IPS 2
motto : never give up !
